Pra-saharsa

Seperangkat dahi, seperanti lika-liku, sekilas dalam mandang, kita jerujuri isi kota dengan arak tanduk rusa.
Kau basahi bibirku dengan isyarat persetubuhan, namun bibirmu tak kudekap untuk kupetakan sedalam hema.
sebab aku adalah gelombang, yang mahir menggulung angin, mematah bunyi, untuk merayakan matimu yang tak pernah kusadari