Silenzium

Di malam yang menyelinapkan bintang-bintang, seorang anak lelaki membunuh Tuhan dalam insanitas pekik belati sujud sembayang terakhirnya, telak dihadapan trah rububiyat Rumi dan bukit awan Caspar david juga metamorfosa Kafka yang kian tersadur ultimate dalam paprika Hoshino sebelum lagu-lagu dikumandangkan, ia menjelma sangsara Ganesa tanpa membawa peta bencana. Dan tepat sebelum zarah melahirkan cahaya, keberadaannya adalah sangkar dinding imaji dan kenyataan yang dilapis tebal, memikul miras atas iras dalam pangkuan untuk digenang kepada tubuh juga berpil-pil sekapsul waktu untuk merealisasi kenangan masa lalunya. Maka sebelum ia memiliki keberanian untuk melucuti nadinya, kesadarannya adalah awal mula ketelemparan dan kehidupannya adalah lima opus oleh Thomas cole pada kanvas yang belum selesai. Kotanya seperti api yang memberangus jarum kompas, seperti kata, seperti kita sebelum menjadi wacana untuk mewujud cita-cita, tempat tubuh sejarah bagi mata untuk mengeramnya. Maka murka kepalanya adalah liang lahat untuk anak-anak belajar menari dan membaca saat memulai memanjat semak belukar, atau sebagai tongkat Musa membinasakan Ozymandias sebelum ia rampung akan animo kepemilikan

Di malam yang menyelinapkan bintang-bintang, seorang anak lelaki harus baik-baik saja, sebab gigil tertidur, ia menyandarkan tubuhnya kepada serdadu onani untuk tenang dan pergi meminum juga berakhir untuk memanjat bukit kembali.

Namun di pagi selanjutnya, berkrat-krat dan berbungkus-bungkus langit tidak pernah menyelinapkan bintang-bintang itu kembali.