Banjir

Tentang sepenggal prakisah:
Tuhan memang maha pemahat kayu
Dituangnya bilah dipangkuan tangan
Kepada cawan, sabda tuhan memilah awan
turunlah hujan, redamkam lebam
jadilah bah, lalu jadilah genangan
Untuk buah dada Nuh
Jadilah kaki-tangan pemahat kayu

Tentang genangan sawah:
Dahulu kala, sebelum hujan melipat desa
Ziusudra sudah luan mengukir tinta pada pualam
lalu tibalah Enki melalui mimpi
seraya berkata:
Jauhilah mulut sungai yang menyatukan nil dan eufrat serta tempat di mana tiupan angin utara yang kelak melipat tigris
sebab deras arusnya akan membanjiri kota di tengah tempiarnya akan segala berkah dan tulah,
Ziusudra pun bertanya kepada ayahnya tentang air sungai yang mengalir menggenang lalu menguap,
sebuah tanya;
ihwal akan siklus langit dan mantra sangit yang akan digenangkan kepada ladang

Tentang Sungai darat:
Oh, Ea
Sebegitu dalamnya cintamu kepada umat manusia sampai dermaga tak kauutarakan untuk membasahi selayang menara.
Oh, Ea
tidurmu begitu nisbi
menjedaya dalam mimpi
mengupas andai sekeras adiksi
Oh, Ea
Masihkah titahmu menapaki segala tahta dalam pertikaian dalam jurang segala maha nama
Oh, Ea
kau menghapus segala dahaga
sebagai pematri basuh-Dewata
Oh, Ea........

Tentang tanah dewa-dewi:
Di tangga ibu
kulit mengupas begawan,
langit menumpahkan awan saat berjaga,
mungkinkah di masa depan pilar batu akan ditujam bilah kilat,
sesudah ahli cumbu menyampaikan pesan murka, sebab Deucalion sudah memahat bahtera,
dan kaki-kakinya ada ratus kayu simpuh keterjaan,
juga pilar-pikar yang diberi seribu nama,
maka Prometheus:
semangkuk untuk keberlangsungan.