Labirin Hujan

Pepat getar selemah gelombang parak
tahta kursi yang belajar menjadi hujan
titah labirin yang mendesak igauan
Bhisma yang belajar abadi
mendenting lonceng raya riuh tanpa simfoni

sepetak laut dalam genggaman
di lekuk tanah tubuh tanpa tarian
untuk kijang liar, sepatah kata ranum, ahli nujum meramu kehancuran

Maka malam disinggahinya setapak
batu pejal melangkah dengan lebam
singgahsanamu adalah lidah sengkuni
dalam rupa doa mengimani mata angin
melalui panah Arjuna menembak jatuh matahari

Namun begitu liar dalam sabda kematian
tersesat dalam penuh sirah bersat hutan
tak ada yang mampu basahi lindungan
sebab kita tak mengerti arti junjungan
di lembah yang menafikan tuhan