Di kota redup yang luan akan kelakar
aku simpuh merebah kepadamu
rumah bordil serta simpul awanama
tempat kurawa menera ketelanjangan
~
aku ingin kembali pada sungai gangga
tersimpuh layu akan buah dadamu
dalam pinggul yang menghapus cuaca
dalam hingar bingar yang enggan berlalu
sungguh, hanya kepadamu Arumi
tempat mengulas segala pola pantik api
juga seribu buku yang kudambai
menjadikan luhurnya kita akan diskusi
aku merindu pada laut yang memekarkan padma
dengan bising ombak yang menjegal kesepian
dalam peluk pancaroba penuh keterjagaan
juga secawan api dari neraka yang membara
Sekarang mungkin jurangmu sudah selemah Nietszche, sedalamnya, sedinginnya,
semengerikannya,namun inginku untuk sekali lagi:
tidur tanpa jarak di antara genggamanmu