Bulan datang pekat terbelah bersama Rahwana,
pecahlah darah dan daging bermandikan merah,
kau berteriak atas nama tuhan ketika basah,
saat aku yang haus akan Magdalena,
berkah tubuhmu adalah kapal dengan nahkoda yang tak mengerti akan peta dan tujuan,
sebab buta akan takaran dan juga luasnya bilangan,
kau pun simpuh pada sampul yang aku rajut,
sebab saat itu juga aku menjelma jubah Hamlet,
lalu kau berteriak lagi atas nama tuhan,
aku membisikanmu tentang kekosongan,
jadilah kita seadanya:
selembah di malam dekap gulita tanpa tuhan yang berani menyabda.