lalu aku mengajakmu memakan api yang di bahan bakari tirani dalam jalan yang begitu hampa dan bising. Aku bersamamu berjalan menelusuri jalan yang dimahkotai sebagai antipati: menggapai keringat, menuju pertumpas darah penghabisan.
Saat itu kau lapar, namun kau malah memanjatkan doa nuh kepada gerbang yang diamuk masa untuk ditangkap mata kita, bahwa mata kita akan menang, bahwa kita akan merayakan hal itu.Bahwa jalan yang basah akan membawa kita kepada ujung pelangi.
lalu aku menyapa tangan kecilmu itu, kau juga menerima telapak kecil ini. Kau berkata padaku "mereka seperti lebah-lebah yang menghisap nektar namun tanpa penjagaan, sebab tombaknya dicuri matahari yang tak mengerti waktu untuk dicuri kepada ruang".
"Sudahlah", kataku.
Saat semua amuk panas ini usai kita akan berjalan pulang dan merajut sutra dijalan yang ditapaki Buddha? Seperti janji yang kau warta sebelumnya: perayaan sekaligus tegur sapa kepada lebah-lebah yang mulai sekarat kemudian simbah menuju ranjang persetubuhan.
Ketika bising mulai pudar, aku menatap matamu, matamu pun berbicara padaku "riuh pelataran mulai tenggelam di ufuk barat, aku akan menunggumu pukul delapan malam setelah hujan reda".
Aku yang sudah lunglai akan segala macam umpatan bersitegur "mungkin bukan untuk hari ini, mungkin suatu saat di kedai Magots, mungkin juga di taman Getsmani dan kita akan duduk bersama, walau perkataanku ini hanya sebagai bentuk metafor atau memang bisa menjadi kenyataan dalam benak kita di masa depan. Mungkin saja, semoga saja, kita akan saling bertamu kembali suatu saat, gadisku dari tanah para dewa dewi dan pembelajar musim panas".