aku, bukan siapa dan apa

Tuan,
kau mengajariku gematria,
mengalungkan rosario di leherku,
membukakan pintu sejarah pada kotor tubuh dan leherku,
berkali-kali, berkali-kali.

Tuan,
kau bimbing nafasku menuju arti kebahagiaan,
untuk mengerti satu saja pengalaman mistikal,
menuju tanah paramapada,
singgahsana tahta keabadian sang tiada.

Tuan,
tenggelamkanlah aku,
dari aku yang memaksa moksa,
dari aku yang menghindari leburan kiasan,
dari aku yang menujumkan ayat-ayat,

Tuan,
Aku ingin dihancurkan dan dihidupkan kembali oleh pencipta keindahan angka-angka, sekali lagi

Tetapi, Tuhan
aku belum sampai pada titik itu,
titik di mana jalur sutra memanggilku.