Tuhan maha pandir melontar
sebab inikah kau mencurangi zahir
memberi amuk cuaca bulan juni?
maha agni.
Tuhan memetik gerimis dari pelupuk angin
sebab inikah kau merintih di ambang petang
menganyam duri di telapak sunyi?
maha bisu.
Langit tak paham bahasa tubuh
gelisah berkisar di sela pori
kau ingin pulang ke luka yang retak
tapi rumah tak lagi berbentuk.
hari ini
ada mata yang mati
di sepetak ruang begitu dingin hari ini
ada mahia yang tumbang
sebab tak ada lagi tarian gadis lugu menjamah ruang
hari ini
jumat tak menjemput tuhan
sebab tuhan tak ingin menjemput tuhan
hari ini
pohon ara berguguran
di ketinggian dua puluh delapan
hari ini
dari pagi hingga malam
tak ada kelamunan wajah selain lelah
hari ini
cuaca begitu hujan
telanjangnya tetap mengumpat
o
hari ini
kupinta kembalikan ia dalam lima dinasti
01/12/23
Adakah aku hingga gempar ihwal sang penyempurna mengurapi seluruh luka di saat aku tak mampu menghujani panas untuk belantaranya hutan yang ku hunus demi melipat hari untuk kuabadikan dalam siksa gravitasi abadi
Hidupkah aku bila dingin kucawankan menjadi abu paling suci demi kutawarkan ragu tanpa sekalipun meminta ampun di tiap riak-riak yang kuhalau dengan tumpulnya pedang yang kuasah paling sempurna dari maha sempurna itu sendiri sebelum ditawarkannya ketabiatan fasik
Matikah aku saat semua nubuat yang tak pernah kupahami adalah sebuah dosa yang tak sekiranya dapat melalaikan aku sebagai pelindur malam, penyamun berhala, pendusta ayat, pengutuk khotbah, pencerca kemurkaan, pengkhianat keberadaan, penghirau keterjadian, pencela kebertubuhan, pembias keteraturan, pengamin kecurigaan, pencuri dan penghancur kemutlakan yang bebat batasnya tak kunjung terkoyak lelah padam oleh sampan tak berdasar
'Tuhan, maafkan aku yang menyembahmu sebagai maha avontur'
Maafkan aku yang selalu terjaga dalam gelapnya kabut yang enggan kulayari demi mendapat kemunafikan tulah dari gersangnya lilitan sahara,gempar digerus ombak, remuk diterka taifun, basah dicurah bah, kering ditinggal ilmu, geming didengung sombong, menari diatas obituari, getar diujung jurang, mati tanpa peninggalan dan hidup tanpa bilangan, selain dan hanya tanpa alasan untuk singgahi istana yang mafhum hanya untuk mengencingi namamu tanpa menyampul di kemudian hari
ampuni aku bila sesak di dada hanya untuk sulaman meragu yang sebab janturmu tak kau sesakan sesaat untuk mengingatkan aku kembali kepada yang senadinya sesak,walau aku tahu, benar kutahu,sungguh kutahu, dadaku telah mendermaga menguap bau mayat
ampuni aku bila raga yang kau pinjamkan hanya kupakai untuk menjamu nafsu yang sedikit pun tak mengerti arti cinta dalam hamparan luasnya perasaan, tak mengerti kebertibaan wujud tampak dalam relung mimpi,juga raga yang tak pernah kubentengi dari gerusan zaman yang sebab muasalnya menyisakan umur yang kapan saja bisa kau tanggalkan
ampuni aku jika bibir ini kupakai hanya untuk mengeja dan belajar meminta ampun, tanpa merapal nama ayat yang suci maupun yang durja
ampuni aku jika akal yang kau titipkan pernah kupakai untuk meniadakanmu dengan rubik tanpa sekalipun pernah kuputar, seperti mantik yang kupakai untuk menafikan sunyi, mengusap sebab muasal ketetapan, memadamkan api sebab mengetahui, angkuh dalam atur keimanan, menyalibkan diri sendiri, membakar doa untuk memulangkannya kembali, menjelmakan kesepian untuk kesiapan bunuh diri sebab setahu jagat akan lepas mengorbit tanpa terkendali walau hanya sekedar untuk meludahinya saja
Tuhan, ampuni aku yang tantrum dengan menyebutmu maha zabijak
Patuhlah aku kedalam jangkarmu,
rapatlah aku kedalam doa sebab sangkur yang berani kurampas adalah ketiadaan mengenal diri yang begitu rapuh dan belum selesai
patuhkanlah aku kedalam sujud di sepertiga malam sebelum subuh menjemput tanpa selembar hosti, tanpa ekaristi,tembang nawas, matematika Hipatia, doa Zakaria, juga tasbih rosario
aku memohon padamu:
'patuhi patuhmu untuk patuhkan patuhku sebab jika patuhmu tak kunjung dipatuhkan bergerak mematuhkanku,
aku takkan pernah mengerti apa itu arti mempatuhi patuhmu'
maka izinkanlah aku menerima siksa jatuh tak terbelang cintamu,
yang kuucap belum selesai menuruni menara,
dan yang kau berikan pasti kubasuh dengan lelah isak sejauh tangis,
dengan menyebut namamu sejauh kota mazmur,
izinkan aku tidur walau hanya malam ini saja
[λ]
Für elise tak dapat menjadi penyempurna komponen Turkish pada mulanya,
notasi yang berderap tak mampu mengimbangi yang pasti,
punggung wajahnya tak bisa merangkum segala kesempurnaan;
ternodai oleh ada paling nista:
mata monokromatika paling sempurna
[u]
Ia yang datang menjelmakan keriting dan dahi bah bermusim wabah untuk membasuh segala yang tak absah,
dengan mata yang membuat sesak rangkum namun juga menjadi taji sebagai biru,
hanyalah mewakili waktu untuk sekali lagi menegak rum dalam diam dan tapa di tiap tapak yang tak bisa ditapal kembali,
dalam bibir yang mengurapi racun;
berswakelola neraka Dante
[ķ]
Karena,
Tanda tak mengenal keberadaan,
setiap yang tinggal akan menemukan tanggal,
setiap tanggal akan meninggalkan tangkai,
setiap tangkai membuahkan tangkup,
setiap tangkup akan tunggak;
perasaan bunuh diri:
apa yang meledar tak bisa dijelaskan oleh proposisi angka walaupun hanya sekedar postulat: hilang di keadaan nol mutlak
[Nv]
jika ia awan yang menghampar jatuh kepada ceruk di kala ia sungguh jatuh,
adalah tarian paling sempurna untuk mencari Tuhan di kala kepastian itu sungguh maha tak ada,
aku, yang maha bisu hanya menatap kesempurnaan yang kau cipta dengan melodi malam tanpa nama;
merangkai tidal disisa hari
[1]
ah aku rindu alfred prufrock: kematian
sajak tiba-tiba
o
[Perihal mata malaikat pembuat lelah]
aku suka mata yang mengakar mondial
aku suka mata yang mencairkan beku
aku suka mata yang mengajari isaac
aku suka mata yang menuntun emanasi
aku suka mata yang menjarah estetika
aku suka mata yang
aku suka mata
aku suka
aku
lima malaikat datang menjemput,
dua lainnya mati di pelataran,
tenggelamlah aku dalam mata pašnāvība
[Perihal rambut terpetakan dalam lanskap ]
Sumpah demi nama sang penggerak utama
rambut yang kulihat telah mengikat jatuh matahari,
mengerat antares dibeku dalam ekliptika,
membawa jauh salib selatan mengutara,
melipatnya hingga tepian paling dasar alhena,
gamma kerap memburati gema aurora,dipijaknya,dirangkumnya,disinarinya,disinyalirnya menjadi singularity yang tak kunjung membiak,
apa kau tahu sembilan puluh tujuh konstelasi runtuh oleh kesesatan saat ambuwaha tak bisa menjinakan singa di altar mekbuda,
yang kerap membuat sadalsuud menyelatan mencari lubang hitam untuk disetubuhinya,
maka tenggelamlah navia
maka datanglah benang pengikat kosmik
maka datanglah
telah datang ia yang diatasnamai sebagai beta;
Epsilon Geminorum Mebsuta lotus Blancar,
kuncir singa bermandikan cahaya
[perihal bibir pengucap musik]
hulu hilir garis bibirnya adalah gerak ke satu Beethoven yang kulihat,
lembabnya begitu menafasi namun juga maut sebagaimana Mozart merangkai lacrima,
keringnya bagaikan bentakan sayap angsa hitam Tchaikovsky di musim dingin,
can can berdesing berdansa ragu diatas kepala menaruh tarian sepuluh macabre,
dengan rigornya tubuh terdiam oleh notasi empat ratus tiga puluh tiga Cage,
karenanya setiap musik yang keluar dari bibirmu mengucap selamat datang kembali pada hati yang begitu lama tertancap belati,
menguras dari gelapnya hari menuju keabadian,
lalu haruskah ku ratapi ia dengan seratus puisi dan tenggelam pada bibir paling safi
[perihal hidung selamat tinggal]
di satu lorong aku tak menunggunya,
pun dia tak menungguku,
kami hanyalah nyanyian siren dengan angin taifun pembawa pulang kepemangku masing-masing,
aku suka menatap hidungnya, bagaikan katarsis di hari yang begitu lelah,
saat kau berjalan mendekat kebelakang pundakku jelmalah kau sebagai taring gelombang dan deru gerimis membanjiri kota,
aku yang ada di belakang pundaknya hanyut dalam basahnya,
saat kau berpapas melewatiku dengan tatap raut begitu jenaka dari sebuah tangga menuju ruang yang kita tapak bersama-sama,
aku begitu mawar mekar sebelum dicabut dari akar sebelum duri-duri yang melayu dicuri waktu,
saat kau berjalan tepat didepan hidungku dengan begitu jangak pewarta langit,
aku tersenyum rapat dengan hallaj
namun kini tak lagi ku curi tatapanmu, kau juga takkan lagi pernah mencerna hingar bingar dengan matamu,
entah itu untuk melihatku atau juga untuk melihat serintik gerak di sekitar,
dan sekarang aku hanya melihat kursi-kursi kosong disinggah tisu,ditatap kosong, ditempah lain, didesing parak ribuan suara yang tak akan pernah lupa betapa maujudnya dirimu,
betapa rayanya wajahmu,
betapa menusuknya keberadaanmu,
betapa tarian menarikan hidung paling kufasihkan dengan tulisan,
selamat tinggal luminous,
sudah beberapa minggu dan mungkin selamanya mataku tak pernah lulus diajari buta,
selamat tinggal purnama yang kedua kali memberikan sesak getar kotak pandora
malam ini,
tiada sujud dalam penghabisan,
sebab kunegasikan setiap arupala yang singgah di bibir pantai tanpa mercusuar,
sebab kubelah dada ini untuk kupetakan pada setiap samsara yang kandasnya tak sempat menjarah mengucap selamat pulang,
sebab kularik mata ini dengan deru bisik pacuan kuda dipersimpangan lantai menara,
dan tepat sebelum subuh dikala daun merintikan air melalui embun,
kapal theseus berganti baju kembali,
dan setiap beberapa lukis-lukis wajah seibarat bahtera melawan ombak yang mencuri liturgi dengan tiba-tiba,
kau memberiku la vie en rose,
aku, yang mendera por una cabeza
aku menyukaimu sejauh nil kepada eufrat melewati tujuh padang pasir
bersama kemabukan dan racun nila tanpa kelambu
benar aku menyukaimu sejauh telapak hades kepada persephone yang melambaikan
gugurnya musim semi bersama ribuan tangkai mawar malam hari dengan matinya
purnama tanpa pantulan
sungguh aku menyukaimu di saat rashomon menaiki tangga menemui sang sepuh yang siap
mengakhiri hayatnya dari dunia penuh genangan darah oleh sebilah katana
sungguh benar aku menyukaimu dengan jatuh kepada cinta oleh ragamu yang tiba-tiba
membawa renjana himalaya dengan dingin yang begitu hangat di kala senja,
"di kala senja"
di kala senjakala berhala mendatangkan Dionisus keperjamuan anggur untuk waktu
penghabisan memporakporandakan pantheon Yunani
Di saat sebelum batu di tumpah kepada api,
aku tak mengerti kutagara yang memacu kuda,
dan tepat sebelum bulan merudapaksa hari-hari,
aku hanyalah pecah bermandikan jiwa mendaging,
kau yang membeku di selasar perkuliahan saat itu,
membuatku jatuh ke barat menemui semua kelana,
menyisir tiap-tiap helai basah rambutnya oleh ketenangan tanpa taifun tiba,
dengan adegan dan oleh adegan E yang begitu membuat rusuk lepas berpetualang tanpa pulang merindukan kampung halaman,
aku, begitu merindukan kedai Tuhan
dan kini;
kembalilah sesak kepada aku dengan adegan pemangku ruang yang merindukan hancurnya kampung halaman,
sebab datang dan pulangnya membuatku pergi jauh berlayar ke arah timur,
pergi mencari siapa empunya pemangku tragedi yang menarikan tarian yang begitu membuat
rasa untuk dimatikannya kembali
aku pun pergi menuju kedai Tuhan
setiap desing suara yang kita tangkap dengan selendang kornukopia di ladang tembikar tuhan yang dipenuhi darah dan salib sebagai makam mayat awanama, imanku berpusar mengataksia,
menunggu doa yang lambat laun terkabul meredamnya hujan di sela-sela pagar Agora.
"aku, membunuh Hypatia"
setiap pertemuan di tiap-tiap pembatas hari untuk menghadap dalam megahnya cumbu kota di pelataran istana,jiwaku bersat entah kemana, tertebas di antara rerimbunan sayap kupu-kupu dan kibasan ekor angsa.
"aku, membakar kota Thursia"
setiap perembukan mengenai adegan bahasa tubuh bayi di belantara orang-orang mati dalam malam yang begitu taksa, inginku terambang entah kemana, semua gerak tubuh tak lagi memainkan peran sebagai pecumbu nafsu kelana, yang basah deru ranjangnya tak memahkotaiku sebagai jala.
"aku, merudapaksa dermaga"
setiap dua tubuh yang mengisyaratkan bersipeluk dihadapan ranting angan sembari memikirkan sebuah tangga menuju keabadian yang sering kusebut sebagai altar puaka,hasratku berjalan menuju kesana,menimang segala macam hingar bingar akal yang kau hujam, dengan wangi asap tembakau diujung linangan mata.
"aku, membakar sigaret di kota Roma"
setiap kehangatan yang menyelinap melalui kata juga dengan setiap leksikal yang kau bunyikan,
jelmalah bibirku sebagai trisula,menghujani keputusasaan untuk harapan omong-kosong pikiran manusia urban yang dipenuhi retak-retak simulakra.
"aku, memecah realitas"
Namun bukan aku tak mencintaimu lagi sebesar zarah yang mengikat tubuh bintang dalam reka,
melainkan zarah itu sendiri yang menunggalkan untuk mengaminkanku dalam kebutaan tanpa memikul perkara dan lekara,sebab setiap besi yang berkarat akan terseret dalam dua bencana,
diikat rantai, dikoronasi hepatika.
lelahku yang dijenamai angkara tak sanggup menunggalkan satu dari dua yang akan pergi ke ujung rintihan tanpa buku-buku perkara.
"aku,yang membelah bulan"
Tuan begitu harum
kau begitu seraksa menyinari bau anyelir tumbuh,
Tuhan kau begitu rapuh
saat menjanjikan sepasang nafas dan daging dan darah yang tak pernah serasi,
Tuan kau begitu ranumq
membuat sepertiga bulan yang tatapnya gugurkan khumbakharna untuk pulang dalam kebijaksanaan,
Tuan kau adalah Tuhanku sekaligus Hantuku.
Tuhan,
kau menjadi empat dari tiga yang tak pernah kumengerti dalam datangnya tidur,
Tuhan,
kemabukan ini serasa menikihai diri sendiri sebagaimana syahwat keberulang menjadi,
Tuhan,
sekian kali kau berikan gunung dan air mata untuk selalu kupenggal berkali-kali, berkali-kali.
Maka dari inilah aku menyambang dan meraba kejanggalan dalam gelap,
untuk mengerti apa itu saku yang begitu kecil untuk kuhampas dalam perjalanan mencari keheningan yang diharuskan untuk kunafkahi,
dalam seperempat abad yang telah kau hendaki dalam tubuhku,
kini kau wujudkan mimpi itu dengan tudung gadis kepada mataku yang tak sesekali aku inginkan.
Tuhan,
Engkau begitu imajiner tanpa batas.
Tuan,
aku ingin belajar berhitung.
sepetak tanah diharuskan menjadi api,
di kala apa yang hilang silih berganti,
keberadaan adalah igauan paling nisbi,
kepada jatuh aku rampas tak terkendali,
namun walau kita sedekat nadi,
tak ada derap basah sekompi kavaleri,
sebab empunya rasa diikat bagai rantai,
yang tak bisa jelmakan secangkir martini,
apa yang datang dipestakan sebagai pieta,
yang tak bergerak kemanapun, seberadanya maupun seadanya,
kita menjelma sebagai rupa dan mata,
ruang hanyalah aksi di mana kita tak saling berpatra,
lalu di mana saat pusar taifun itu tiba,
segelombang langkah kaki saling bersimata,
menerakai waktu menuju redup dalam
tiba-tiba,
namun yang ada hanyalah diam yang begitu taksa diantara kita>
Bunyi dari bibirmu adalah kampung halaman,
namamu adalah kenangan dalam diam yang ditulis pada bingkai jendela,
isi kepalamu bagai ilmu yang harus kusambangi,
akankah di suatu saat aku dapat merajaimu dalam mahkota?
walau saja dan sampai kapan pun ini,
kepada nafas yang diharuskan tualang,
tiraniku tetap pergi menuju simposium,
tempat di mana suara merdu bekerja,
di mana mahia ditengguk bersama,
kepada suara dan wajah yang selalu membuat tarian darwish di tengah kematian putri hipatia bersama rakyat yang buta akan angka dan enggan belajar menahan senyum untuk diperkenalkannya kepada sedih yang tak terobati dalam bisunya keberadaan,
kau seibarat luas laut yang tepinya tak bisa kukenalkan kepada api unggun untuk memakan langit bersama.
sebab berkali-kali aku mencoba memetakan air dan ikan-ikan di samudera itu,
yang begitu luas tak terukur,
untuk kuberikan padamu, puan.
namun aku hanyalah pohon kelapa yang diterpa angin laut,
hanya fasih melihat dengan senyum dan duka dari tepian paling dalam tanpa mengerti arti kedalaman.
Saat kau mendengung tentang remuk tubuh
sepasang kendi dalam labirin hotel bersulang
bernyanyi akan segelintir harapan
dan dihapuskan oleh ruang perlahan
sebab kini kau tiba tampak wajah
dalam lima sabda Durupadi,
yang kian membasahi redup hari-hari
Sebagaimana cangkang yang meremuk dengan sia-sia,
lidahmu adalah ketersinggungan, sebagai bentuk segulung taifun,
segala rasa akan seikat mawar sendiri,
tatkala aku buta dipangku segala lebam,
selayar badik mengganggu lembah keterjagaan yang kau basuh berkali-kali,
cahaya bintangmu mungkin meredup, sebab seribu basuh prakira kau renungkan sedalam asa,
di tangan yang penuh perhitungan,
juga di kala baur tak sanggup memantaikan selayar doa kepada saharsaraga yang kau sujudkan itu,
masihkah gelombangmu membawa gema yang sebabnya dapat membunuh raja tanpa sebilah pisau,
sanggupkah kedua tepian tipis bibirmu menyabdakan ayat-ayat penafi,
gigirkah taringmu membusuk digerus segala arus, segala muak dan amuk, segala remuk dan tamak, juga talak yang ditibakan berkali-kali.
Namun telanjangmu masih kuukir setiap pagi menuju malam,
yang kutinggikan sebesar candi,
dan yang kutangkap sebagai candu
terangmu kini jatuh kepada gelap, langsi.
saat rawi mengutara membawa segelak tambun istana padang pasir,
kepada bola mata, kita tak pernah serasi ditiba-tibakan untuk saling bertatap,
taifun mengundang mati tebing kepada tubuh musim panas yang diharuskan membeku,
namun hujan juga ilalang padi, membawa arus percuma, hanya menari kering tanpa secawan air,
sebab berkali-kali kau memberikan setumpuk gunung untuk kugenggam,
bersama gemang yang dengungnya mendegup keratan kepala,
kau pun simpuh mengehalai kerut basah di dahimu, juga di setiap alis yang kau tinggikan itu,
sampai pada kala miratzanggi tak meredam,
sampai kilat menyambar dan pergi mengutara,
maka salib-salibnya tak dinisbahkan, untuk membasuh semua peranakan nafsu jirat; yang tak ditujahkan kepada basuh luka di tubuh masing-masing,
kau pun layak mendahi,
juga aku yang berusahan menyetubuhi bumi
Sungguh ya tuhanku, aku tak pernah lelah dan kecewa mengimani rupamu dalam mata dan selendang yang kau berikan padaku untuk mengerti apa itu ketertinggalan dalam bentuk cinta tubuh: sebukit rasa marah akan ketaksanggupan dipeluk dan memeluknya.
Dulu kau memberikanku setumpuk bukit eros agar kumengerti rasa mabuk, namun dengan arak yang ku tuang tak membebaskanku berakhir dalam sujud dalam waktu subuh sebelum petang untuk menemui jawaban. Sehelai rambutku kau jadikan putih, kau hendaki dalam kausa tak setimpang dalam obat yang ku suntik dan ku telan.
Dan kini kau memberikanku lagi luasanya laut untuk ku amati dalam gejolak dan amuk, namun tulangku sudah lelah dan lemah akan keberadaan waktu. Dan ruang hanyalah simbol untuk menemukan kapur yang menggores dalam papan ketakberdayaan. Tapi entah mengapa aku senang, melihat laut biru muda di tubuh seseorang dan langit di rambut gadis itu.
7/10/24
Akankah nanti kau mengetahui kelamunan dagumu dan desing akan keberadaanmu adalah secarik teatrikal yang mempertunjukkan akal dan laku kebiasaan dalam pembelajaran hingar bingar akan setiap langit yang memberikanku warna-warna merah pelangi tanpa henti untuk kutuang pada secangkir Ada?
Mungkinkah kau kelak menyadari kepada mataku yang selalu menyelinap di setiap kisi-kisi tatap manusia untuk menatap sebuah kejanggalan dari sebuah kehangatan akan lugu paling manis tanpa akhir?
Hanya untukmu
mungkin hanya untuknya
lentera tritunggal tetiris:
sehelai langkah mendaki awan
dalam keterjagaan sepetak kecil menuju penempa masing-masing,
daldaru yang merimbun di kepalamu tak bisa kupuisikan di kemudian hari pada kursi, kantin, tangga, jubah hitam, pena eksistensialis bahkan lugu pada santap tengah hari setelah akalmu selesai memaslahati hingar bingar,
sebab Januari kelak meniupkan simfoni gelap menyapa selamat datang,
lalu selanjutnya, selanjutnya,
hari-hari memarak berlalu,
sebab kiamat dengan nama tengah transformasi akan meruntuhkan simpul,
kemudi hari, lidian muara menguap hingga tak mungkin melihat mawar bersemi di tengah karesansui lagi, lucy.
Ah, almanak hari
semua palsu nampak
kejujuran hanya ada
disela kebertibaan wajahnya
Tampaknya aku masih menyukainya