Kemalangan

Kami menunggu untuk tenggelam. Di kota ini, bersama ibadah yang dipaksa berulang hingga menjadi racun, setiap bangunan tinggi adalah doa yang tak pernah dikabulkan. Cahaya di langit menetes seperti lilin, menciptakan bayangan yang lebih hitam dari malam itu sendiri. Kami menggigil dalam suhu yang tak bisa dirasakan, antara panas yang membakar dan dingin yang menusuk, berjalan di antara kerapuhan aspal berbatu, menghitung detik demi detik sampai dunia akhirnya menelanjangi dirinya sendiri. Tuhan tidak lagi bernafas, ia telah terbakar bersama altar yang kami bangun dari tulang belulang, besi, dan plastik. Jalanan penuh dengan hantu-hantu yang tak tahu bahwa mereka telah mati, melangkah dalam kepura-puraan, mengulang rutinitas mereka seolah masih ada alasan untuk melanjutkan. Kami tidak berbeda—sekedar epistem dari suara-suara yang pernah berjalan bersama, refleksi tubuh yang telah lama kehilangan dagingnya. Dari menara-menara beton,kami melihat dunia mengatup, langit runtuh perlahan, menguap seperti kabut yang kelelahan. Kami mencari sesuatu di antara reruntuhan, alasan, makna, tujuan, mungkin sekadar jejak kaki yang tersisa dari debu. Tapi semuanya hilang, terkikis dalam gemuruh suara mesin yang terus berputar, mesin yang menggerakkan segalanya tanpa tahu mengapa.Kami adalah saksi bagi kematian yang tidak pernah selesai, menyaksikan kota ini menelan dirinya sendiri sedikit demi sedikit. Mata kami penuh dengan cahaya redup dari kematian malaikat yang paling di sayang oleh tuhan, suara-suara yang berbicara tanpa berkata apa-apa. Tidak ada yang tersisa di sini kecuali acara pemakaman tuhan dan tarian macabre, dan pudarnya adalah perhentian sementara untuk kami.

Imajinasi

Hidup ini bukan tentang apa dan mengapa, selaian prasangka yang bersumber dari akal budi. Tidak ada orkestra yang mengiringi pelepasan. Hanya suara sendawa basi dari dunia yang terlalu sibuk mengunyah mimpi-mimpimu dan meludahkannya ke selokan. Kau pikir kau istimewa? Kau pikir dunia berutang sesuatu padamu? Dunia bahkan tak peduli cukup lama untuk meludahimu. Kau bangun pagi, menyikat gigi dengan kehampaan, meneguk kopi susu, sesekali pergi pada kelas-kelas yoga ala borjuis, lalu berjalan ke tempat kerja seolah ada yang peduli dengan eksistensimu. Berita buruknya? Memang tak ada yang peduli. Berita baiknya? Sungguh tak ada yang peduli denganmu. Kau bisa jungkir balik, menjerit atau membakar dunia, dan dunia tetap akan berjalan seperti biasa—seperti anjing liar yang mengencingi dinding sejarah. Cinta? Omong kosong bagi orang-orang pengecut yang merasa kesepian untuk menunggu kematiannya tiba. Keluarga? Kumpulan manusia yang terjebak di dalam rumah yang sama dan pura-pura saling menyayangi. Harapan? Itu hanya pompa metafisis untuk membuatmu tetap berlari di treadmill penderitaan.Pada akhirnya, semua hanyalah ketiadaan yang mengartikan dirinya sebagai makna. Jadi minumlah, kita adalah mesin evolusi berbahan bakar alkohol dan tenaganya adalah untuk melupakan segalanya. Tertawalah, atau menangislah sampai paru-parumu berlubang. Tapi ingat satu hal: tidak ada yang akan menjemputmu di ujung jalan ini selain hutang dan rasa lapar. Kau lahir sendirian, kau mati sendirian. Selebihnya hanyalah jeda yang membosankan